
BESTGAME. Dalam beberapa hari terakhir, komunitas gamer dikejutkan oleh sebuah kolaborasi yang oleh sebagian orang dianggap “tak terduga” bahkan “tak masuk akal”. Ubisoft mengumumkan kerja sama antara Assassin’s Creed Shadows dengan Attack on Titan, sebuah crossover yang memadukan dunia sejarah ala Assassin’s Creed dengan nuansa anime penuh raksasa dan aksi berkecepatan tinggi.
Pengumuman tersebut dengan cepat menyebar luas, dan tak sedikit yang memberikan reaksi spontan. Namun yang paling menarik perhatian bukan hanya suara fans, melainkan komentar dari aktor yang pernah menjadi wajah salah satu karakter paling ikonik franchise ini, Abubakar Salim, pemeran Bayek dari Assassin’s Creed Origins.
Suara Salim ini kemudian memicu diskusi yang jauh lebih besar mengenai arah baru Assassin’s Creed dan bagaimana franchise ini kini memosisikan dirinya di tengah industri game yang semakin terbuka dengan crossover lintas-genre.
Dalam artikel ini, kita mengulas lebih dalam tentang komentar sang aktor, reaksi komunitas, alasan mengapa crossover ini menimbulkan perdebatan, dan apa artinya bagi masa depan Assassin’s Creed.
Aktor Bayek “Terkejut” dengan Kolaborasi Attack on Titan
Melalui akun X (dulunya Twitter), Abubakar Salim menyampaikan reaksi yang cukup lugas bahkan bisa dibilang apa adanya. Ia mengungkapkan rasa bingung terhadap kolaborasi ini, yang menurutnya terasa sangat janggal dalam konteks Assassin’s Creed.
Dengan nada setengah bercanda namun jelas mengandung kritik, Salim menulis:
“Man. What the hell is up with the Attack on Titan Assassin’s Creed!? I thought the FF (Final Fantasy) and Origins mashup was borderline mad, but this one is straight up wacky.”
Pernyataan itu kemudian menjadi bahan diskusi di banyak forum dan platform media sosial. Para penggemar tentu mengenal Bayek sebagai karakter dengan kedalaman emosional, kisah tragedi keluarga, dan latar sejarah yang kuat. Karena itu, mendengar sang aktor meragukan arah crossover ini menambah bobot pada kekhawatiran para fans.
Yang membuat reaksi ini semakin menarik adalah kenyataan bahwa Salim bukan sekadar aktor luar yang jauh dari franchise. Bayek adalah salah satu tokoh paling dihormati dalam seri modern Assassin’s Creed, sehingga komentar ini dipandang sebagai suara yang mewakili kegelisahan banyak pemain lama.
Respons Fans Antara Tertawa, Tercengang, dan Kecewa
Tidak butuh waktu lama sampai komentar Salim memicu gelombang reaksi yang tak kalah vokal. Banyak pemain yang memandang crossover ini sebagai langkah yang terlalu jauh dari identitas Assassin’s Creed.
Beberapa komentar yang menonjol antara lain:
- “Looks like a mobile game.”
- “This is a mess.”
- “Why does AC need this? What happened to the historical tone?”
Dari komentar-komentar tersebut, terlihat jelas ada kegelisahan mengenai hilangnya ciri khas yang selama ini membuat Assassin’s Creed berbeda: dunia sejarah yang serius, konflik antara Assassin dan Templar, serta atmosfer yang kental dengan riset dan detail otentik.
Sementara itu, sebagian kecil pemain merasa kolaborasi ini menyegarkan, memecah kebekuan, dan mungkin bisa menarik pemain dari komunitas anime. Namun kelompok ini tetap minoritas jika dibandingkan dengan mereka yang tidak puas.
Mengapa Banyak yang Menilai Kolaborasi Ini “Tak Nyambung”?
Untuk memahami mengapa banyak pemain menganggap crossover ini aneh, kita perlu melihat perbedaan fundamental antara dua dunia tersebut:
- Konsep Dasar Dunia yang Berlawanan
Assassin’s Creed selalu membangun dunia berdasarkan sejarah nyata. Meski terdapat elemen fiksi seperti Pieces of Eden, fondasi utamanya tetap berakar pada peristiwa, tokoh, dan budaya dunia nyata.
Attack on Titan berada di ranah fantasi gelap yang penuh raksasa, elemen biologis ekstrem, dan teknologi fantasi seperti ODM gear.
Perbedaan ekstrem inilah yang membuat kolaborasi ini terasa seperti memaksa dua dimensi yang seharusnya tidak bertemu. - Kecenderungan Komersial yang Terasa “Dipaksakan”
Banyak fans menilai kolaborasi ini sebagai upaya Ubisoft untuk memanfaatkan tren dan penonton anime tanpa mempertimbangkan kecocokan tema. Mereka khawatir Assassin’s Creed berubah menjadi platform percobaan kosmetik yang tak lagi terikat pada akar sejarah. - Bayek sebagai Simbol “Era Serius” Assassin’s Creed
Bayek adalah karakter yang dibangun dengan riset mendalam tentang Mesir kuno. Ketika pemerannya sendiri merasa kolaborasi ini tak masuk akal, fans semakin yakin bahwa sesuatu memang terasa janggal.
Kolaborasi sebagai Cermin Arah Baru Ubisoft
Beberapa tahun terakhir, Ubisoft terlihat semakin terbuka dengan kolaborasi lintas genre. Mulai dari skin, event, hingga crossover dengan franchise besar langkah-langkah ini dianggap sebagai strategi untuk memperluas pasar di tengah kompetisi industri game yang semakin ketat.
Namun strategi ini menimbulkan pertanyaan jangka panjang:
- Apakah Assassin’s Creed akan kehilangan identitas sejarahnya?
- Apakah kolaborasi semacam ini akan menjadi tren umum ke depan?
- Apakah Ubisoft masih mengedepankan riset budaya dan sejarah seperti dulu?
Bagi sebagian fans, Assassin’s Creed bukan sekadar game aksi ia adalah pengalaman belajar, petualangan lintas sejarah, dan eksplorasi budaya yang mendalam. Ketika elemen ini dikaburkan oleh kolaborasi non-historis, ketakutan akan bergesernya identitas pun muncul.
Ketika Crossover Mengundang Pertanyaan Besar
Komentar dari Abubakar Salim dan reaksi keras dari komunitas memperlihatkan satu hal penting: bahwa identitas Assassin’s Creed masih dianggap sangat berarti oleh para pemainnya. Banyak yang berharap tiap seri tetap menghormati fondasi sejarah yang membuatnya unik sejak awal.
Kolaborasi dengan Attack on Titan memang menarik dari sisi pemasaran, tetapi juga membuka diskusi besar tentang arah kreatif. Apakah franchise ini akan terus mengeksplorasi wilayah baru, atau justru perlahan menjauh dari jati dirinya?
Apa pun jawabannya, satu hal jelas: para penggemar masih sangat peduli dan suara mereka, termasuk suara sang pemeran Bayek, adalah cerminan dari kecintaan terhadap warisan Assassin’s Creed itu sendiri.